MOKSA Oleh: Putu Wijaya
Telepon berdering di kamar praktik
dokter Subianto. Dokter yang sedang menyanyi-nyanyi sambil memeriksa pasiennya
itu, mengangkat telepon.
"Hallo, ini pasti kamu Moksa!"
"Bener, Pak."
"Kamu kan janji mau pulang. Jam begini kamu kok belum datang?"
"Moksa tidak jadi pulang."
"Lho, kenapa? Kamu bilang kamu butuh duit untuk beli kado buat teman
baik kamu itu."
"Pokoknya tidak jadi. Dan Moksa tidak jadi pulang. Mau langsung ke
pesta ulang tahun kawan itu."
"Lho, katanya kamu tidak punya uang untuk beli kado!"
"Udah beres!"
"Beres gimana! He Moksa, Ibu kamu minta diantarkan makan di Planet
Hollywood."
"Tidak bisa Pak. Besok aja. Moksa pulang besok, Minggu."
"Tapi kamu kan butuh duit..."
"Udah ya Pak. Selamat malam Minggu sama Ibu. Besok Moksa pulang!"
"Tunggu!"
"Tidak bisa, ini coinnya sudah habis."
Telepon putus.
Dokter Subianto tertegun. Kelihatannya kesal. Dia menghampiri pasiennya
dan tanpa ditanya lantas ngomong.
"Anak-anak sekarang memang lain dengan kita dulu," katanya sambil
meneruskan menelusuri tubuh pasiennya dengan stetoskop.
"Kenapa, Dok?"
"Itu anak saya yang indekos di Depok supaya dekat sekolahnya, pulangnya
hanya sebulan sekali. Ini ibunya sudah rindu setengah mati, tapi dia nggak
jadi pulang. Padahal kemaren merengek-rengek minta uang bulanannya ditambahin
100 ribu, sebab ada kawannya yang ulang tahun. Saya bilang boleh saja,
asal jelas untuk apa, tetapi harus pulang dulu! Sekarang dia tidak mau
pulang. Dia cuma mau uangnya. Akibat iklan-iklan tv, anak-anak sekarang
memang jadi mata duitan semuanya. Oke. Sudah. Anda sudah tokcer. Anda
sudah boleh melakukan apa saja dan makan apa saja sekarang, asal jangan
berlebihan seperti pejabat-pejabat yang KKN itu!"
Pasien mengucapkan terima kasih, lalu pergi keluar. Dokter Subianto kembali
menggumankan lagu kegemarannya. Langgam Melayu Seroja ciptaan almarhum
S. Effendie.
"Mari menyusun, bunga Seroja......"
Pintu belakang terbuka. Kepala istrinya nongol.
"Moksa nelpon ya?"
Dokter menarik napas panjang.
"Ya. Tapi dia tidak bisa pulang. Tetap saja urusannya sendiri yang
lebih penting. Kita memang sudah dia tinggalkan. Ini memang nasib semua
orang tua. Uang sakunya harus dikurangi lagi, supaya dia terpaksa pulang."
Istri dokter masuk. Dia tampak sangat gembira. Dokter Subianto jadi heran.
"Kenapa kamu gembira sekali, padahal kamu harusnya marah besar sebab
tidak jadi ke Planet Hollywood, sebab tidak ada yang mengantar, karena
aku juga tidak bisa membatalkan pertemuanku dengan dokter Faizal malam
ini di rumahnya!"
Istri dokter Subianto duduk di kursi.
"Aku bisa ke Planet Hollywood kapan saja. Tidak pergi juga tidak
apa. Aku sudah cukup senang dengar apa yang diceritakan Moksa di telepon
tadi."
"O jadi dia sudah menelpon kamu sebelum menelpon aku? Anak-anak memang
semuanya lebih cinta kepada ibunya daripada papanya."
"Bukan begitu. Dia tahu kamu lagi praktek, jadi dia ceritakan saja
kepadaku. Nah sekarang aku menceritakan kepada kamu."
"Apa lagi apologinya kali ini?"
"Bukan apologi."
"Apa lagi rayuannya kali ini supaya kamu tidak marah dan menyediakan
duit 100 ribu besok, karena dia sudah pinjam dari temannya, sebab itu
memang lebih praktis daripada pulang naik bus yang kumuh, sesak dan panas.
Ah anak-anak sekarang memang sulit dilatih prihatin. Maunya enak. Ini
gara-gara gaya hidup wah yang sudah dipompakan oleh televisi dan majalah-majalah
wanita!"
Istri dokter Subianto tersenyum saja. Sekali ini ia tidak mencoba mendebat
suaminya. Ia menunggu sampai lelaki itu tenang. Lalu sambil tersenyum
bangga ia bercerita.
"Anakmu Moksa sudah melakukan sesuatu yang amat mengharukan hari
ini," kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca. "Dia sama sekali
tidak meminjam uang temannya untuk beli kado. Tapi dia berusaha dengan
cucur-keringatnya sendiri. Dan kamu pasti akan terkejut kalau mendengar
apa yang sudah dikerjakannya untuk mendapatkan uang."
Tiba-tiba wanita itu tidak dapat menahan emosinya. Ia menangis, tetapi
bukan sedih. Tangis haru karena gembira. Dokter Sugianto jadi berdebar-debar.
"Apa lagi yang dilakukan oleh Moksa? Dia mencuri?"
Nyonya dokter berhenti menangis.
"Masak mencuri!"
"Habis apa? Kamu kok menangis?"
"Aku menangis karena terharu."
"Kenapa terharu?"
"Sebab anakmu ngamen di dalam bus!"
"Apa?"
"Ngamen!"
Dokter Subianto tertegun. Tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
Dan tambah tak percaya lagi ketika istrinya menambahkan.
"Dan dia menyanyikan lagu Seroja kegemaranmu itu di dalam bus dengan
gitarnya. Banyak orang terharu. Suaranya kan memang bagus dan main gitarnya
pinter. Tak tersangka-sangka ia bisa mengumpulkan banyak, karena orang-orang
itu memberinya dengan senang hati."
Dokter Subianto tak mampu bicara apa-apa. Ia ikut terharu. Anak yang selalu
dikhawatirkannya sudah hampir sesat karena pergaulan metropolitan, ternyata
masih lempeng. Bahkan mampu berdikari mencari duit dengan ngamen. Itu
memerlukan keberanian dan ketekunan. Tidak sembarang orang akan mampu
berbuat seperti itu. Itu harus dibanggakan.
Pintu kamar praktek terbuka. Zuster yang membantu mengatakan di depan
masih ada satu pasien lagi hendak masuk. Istri dokter menghapus air matanya
lalu diam-diam masuk ke dalam. Waktu itu dokter Subianto tak mampu menahan
kucuran air matanya. Ia cepat berpaling ke sudut dan menghapus rasa haru
itu.
Ketika Subianto berbalik dan berhasil menenangkan perasaannya, di depan
mejanya sudah duduk pasien. Orangnya hitam kurus, pakai rompi hitam dan
nampak amat kesakitan. Setelah diperiksa ternyata ia memiliki benjolan
merah di dada kanannya. Dokter Subianto memperkirakan itu semacam tumor
lemak. Ia cepat menulis resep.
"Dalam tiga hari, kalau tidak ada perbaikan, cepat datang lagi kemari.
Mungkin memerlukan perawatan lain. Tapi kalau sudah mendingan, teruskan
minum obatnya sampai habis. Ini ada 4 macam."
Subianto menyerahkan resep itu. Pasien melihat ke atas resep lalu memandang
ke dokter seperti bimbang.
"Kok banyak sekali Dokter?"
"Bisa diambil separuhnya saja dulu."
"Ini kira-kira berapa Dokter?"
"Ya mungkin sekitar seratus ribu. Sekarang obat-obatan memang mahal
sekali."
Lelaki itu tertegun. Dokter Subianto heran.
"Kenapa?"
"Saya tidak punya uang Dokter. Bahkan saya juga tidak punya uang
lagi untuk bayar Dokter. Tadi di dalam bus waktu kemari, saya ketemu dengan
seorang anak muda. Kelihatannya lagi susah. Karena ia duduk di samping
saya, saya tanyakan apa sebabnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak punya uang
untuk beli kado, buat teman baiknya. Saya katakan kepada dia, bahwa kado
itu bukan tujuan dari ulang tahun. Kita datang dengan tangan kosong dengan
hati bersih saja sudah cukup. Dia termenung mendengar apa yang saya katakan.
Lalu saya menceritakan banyak hal, panjang lebar, karena saya lihat dia
begitu sungguh-sungguh mendengarkan. Waktu turun, dia mencium tangan saya
dan mengucapkan terima kasih. Saya tanyakan siapa namanya dan siapa orang
tuanya. Tapi dia tidak mau menjawab. Namun saya yakin karena suaranya,
tubuhnya, dan gerak-geriknya juga hidungnya anak itu....... anak Dokter.
Maaf, Dokter punya anak yang tinggal di daerah Depok, bukan?"
Dokter Subianto terkejut.
"Ya, anak saya Moksa, indekos di situ."
"Dia memiliki tahi lalat di mata kanannya?"
"Ya betul."
"Maaf, kalau tidak salah, kidal?"
"Betul."
Pasien itu termenung. Ia kelihatan susah ngomong.
"Kenapa? Bapak kesakitan?"
Pasien itu seperti tak mendengarkan kata dokter, dia terus bercerita.
"Waktu saya mau bayar bus, saya baru sadar, dompet saya sudah hilang.
Semua uang saya untuk berobat ada di dalamnya. Saya bingung. Tapi karena
sakitnya bukan main, saya teruskan saja kemari. Jadi begitu Dokter. Maaf,
apa saya bisa membayar Dokter lain kali saja?"
Dokter Subianto tercengang.
"Jadi, anak saya itu sudah mencopet Bapak?"
"Anak Bapak? Benar dia anak Dokter?"
"Maksud saya, anak itu. Anak itu sudah mencopet Bapak?"
"Saya tidak tahu. Mungkin tidak."
"Berapa isi dompet Bapak?"
"Seratus ribu."
Dokter Subianto termenung beberapa lama. Kemudian dia bergegas membuka
laci mejanya. Mengeluarkan 100 ribu dan memberikan kepada orang itu.
"Ini. Tebuslah resep itu."
Orang itu tercengang. Nampak agak malu.
"Pak Dokter meminjami saya uang?" tanyanya seperti tidak percaya.
Dokter Subianto menggeleng. Ia mengajak orang itu ke pintu.
"Tidak. Bapak tidak perlu mengembalikan, pakai saja uang itu untuk
menebus resep. Saya justru minta maaf atas kelakuan anak saya. Moksa memang
nakal. Saya akan memberi dia peringatan keras. Sekali lagi minta maaf.
Kalau ada yang perlu saya bantu, datang saja jangan ragu-ragu."
Dokter Subianto membuka pintu dan mempersilakan.
"Selamat malam."
Orang itu nampak seperti merasa bersalah. Ia ingin mengucapkan sesuatu,
tetapi Subianto cepat menutup pintu. Lalu menjatuhkan badannya di kursi
sambil memukul meja.
"Bangsat!"
Untung tidak ada pasien lagi. Konsentrasi Subianto sudah buyar. Begitu
selesai praktek, ia menceritakan secara sekilas apa yang sudah terjadi
pada istrinya. Tanpa mendengarkan komentar istrinya, ia langsung masuk
ke mobil, menuju ke rumah pondokan Moksa di Depok.
Subianto terpaksa menunggu di ruang tamu, karena Moksa baru saja berangkat
ke pesta. Ia menghabiskan 5 gelas teh, karena perasaannya tak menentu.
Tengah malam Moksa baru muncul. Anak itu juga nampak heran melihat papanya
sudah menunggu.
"Kan saya bilang besok pulangnya, Pak?"
Subianto menyembunyikan kemarahannya dengan senyuman.
"Ibumu tidak bisa menunggu sampai besok. Kamu harus pulang sekarang."
Moksa terpaksa ikut. Dengan muka agak mengantuk, ia duduk di mobil di
samping bapaknya. Ketika ia hampir saja tertidur, bapaknya mulai bicara.
"Bapak dengar kamu sudah ngamen tadi untuk dapat beli kado."
"O Ibu udah cerita?"
"Ya. Dapat berapa?"
"Lumayan. Yang penting kan bukan kadonya tetapi kehadirannya."
"Jadi kamu menyanyikan lagu Seroja di dalam bus?"
Moksa tersenyum.
"Bener kamu menyanyikan lagu Seroja?"
"Ya bener dong, masak tidak."
Subianto mengangguk.
"Di antara yang memberi kamu uang, ada lelaki pendek hitam dan memakai
rompi hitam?"
Moksa mengerling.
"Kok Bapak tahu?"
"Ibu kamu menceritakan semuanya."
"Tapi Moksa tak menceritakan tentang orang itu."
"O ya?"
"Moksa hanya bilang, orang-orang di dalam bus itu heran sebab Moksa
ngamennya lain. Kok pakai lagu Seroja. Mereka tertarik dan menanyakan
apa Moksa pengamen betulan? Moksa jawab tidak. Cuma iseng. Kebetulan kurang
duit buat beli kado untuk temen. Ee tahunya semua pada bersimpati, lalu
ngasih. Kecuali Bapak itu."
"Bapak yang mana? Yang pakai rompi hitam?"
"Bapak kok seperti paranormal, tahu aja. Ya, dia pakai rompi hitam.
Dia paling menikmati lagu Moksa tapi nggak mau ngasih duit."
"O ya? Dia tidak ngasih apa-apa?"
"Nggak. Nggak ngasih apa-apa. Tapi untuk menghargai perhatiannya
pada lagu Moksa, Moksa menyanyikan lagu itu sekali lagi khusus untuk dia.
Lalu dia memanggil Moksa. Katanya, itu lagu nostalgianya. Moksa juga bilang
itu lagu nostalgia Bapak. Lantas dia nanya siapa sebenarnya Moksa. Ya
Moksa terus terang saja, Moksa ini anak dokter Subianto. Dia manggut-manggut.
Dia terus mendesak supaya Moksa mnceritakan tentang Bapak. Ya Moksa cerita
seadanya saja, semuanya. Lama juga kami ngobrol. Kami salam-salaman sebelum
pisah. Moksa terus ngamen sampai capek, karena rasanya enak dapat uang
karena cucur keringat sendiri, makanya kagak jadi pulang."
Dokter Subianto tertegun. Ia menghentikan mobil.
"Kenapa Pak? Ngantuk?"
Subianto menggeleng.
"Nggak. Aku hanya terkejut."
"Kenapa?"
"Karena Bapak kira Bapak ini cerdik, ternyata dengan gampang ditipu
orang."
"Ditipu bagaimana?"
"Dikerjain. Melayang seratus ribu rupiah dalam sekejap!"
"O ya? Kok bisa?"
Dokter Subianto menarik napas panjang, lalu menceritakan apa yang sudah
terjadi di kamar praktek sore itu. Moksa mendengar dengan penuh perhatian.
"Jadi orang itu datang ke ruang praktek Bapak?"
"Ya. Karena dia tahu data-data kamu, dia datang dengan begitu meyakinkan.
Dia menjual cerita bohong dengan begitu lihai, sehingga Bapak kehilangan
100 ribu. Habis dia bilang, dia tergugah mendengar cerita kamu. Masak
anak dokter kok ngamen. Lalu dia mengeluarkan uang dari koceknya dan memberi
kamu 100 ribu. Padahal uang itu mestinya untuk beli obat. Bapak jadi merasa
tak enak. Akhirnya Bapak terpaksa mengganti 100 ribunya. Dia berhasil
menipu Bapak dengan mempergunakan data dari kamu. Itu pasti penjahat profesional.
Sebelum melakukan kejahatannya, dia pasti sudah menyelidiki kita. Dia
tahu siapa kamu dan siapa Bapak. Kalau tidak, dia tidak akan berhasil
menipu dengan selicin itu. Dunia ini sudah penuh dengan kejahatan sekarang.
Bapak harus lebih waspada sekarang. Kamu juga harus hati-hati."
Moksa terdiam. Ia nampak memikirkam dalam-dalam. Lalu Subianto menghidupkan
mesin kembali. Mobilnya meluncur seperti kesetanan. Di rumah ia hampir
saja menubruk pagar.
Istri dokter Subianto memeluk Moksa begitu mereka sampai.
"Kamu anak hebat. Ternyata kamu bisa mandiri, kalau kamu mau. Ibu
bangga sekali pada kamu!"
Subianto cepat-cepat pergi ke kamar studinya. Kalau sedang senewen, ia
suka tidur di situ menyepi. Tanpa salin pakaian, ia berbaring. Kecewa
karena merasa sudah gagal mendidik anak. Ia menyesali dirinya karena terlalu
sibuk. Kenapa ia dulu memilih jadi dokter, padahal ia tahu dokter sepanjang
hari sibuk, tak akan sempat memperhatikan anak. Mestinya dia jadi seniman
saja, supaya bisa menemani anak 24 jam. Mestinya ia tidak membiarkan Moksa
indekos di Depok, supaya bisa diawasi terus. Sekarang sudah terlambat.
"Kini sudah waktunya. Aku harus, harus, harus, harus bicara pada
Moksa secara blak-blakan, serius, dan keras. Kalau tidak, akan terlalu
terlambat!" bisiknya dengan geram.
Sampai subuh, Subianto tak bisa memincingkan matanya. Tapi baru saja lelap
sebentar, istrinya muncul membangunkam. Ternyata hari sudah pukul sebelas
siang.
"Moksa sudah menunggu kamu sejak tadi. Dia ingin bicara. Kelihatannya
serius sekali," kata istrinya.
Subianto duduk lalu memberi isyarat supaya Moksa disuruh masuk. Perempuan
itu berbalik lalu memberi isyarat pada anaknya yang sudah sejak tadi menunggu
di pintu. Dengan anggukan rahasia Subianto minta supaya istrinya pergi.
"Selamat siang, Pak. Bapak nggak ke kantor?"
"Selamat pagi Moksa. Bapak kurang enak badan. Kamu mau bicara dengan
Bapak?"
"Ya."
Subianto memandangi Moksa tajam.
"Apa lagi? Mau menuntut kenaikan uang saku?"
"Tidak."
"Tidak? Lalu apa?"
Moksa terdiam.
"Ada apa Moksa?"
Moksa menunduk. Setelah diam beberapa lama, ia berbisik. Suaranya hampir
tidak kedengaran.
"Pak, kenapa Bapak percaya pada Moksa?"
Giliran Subianto yang terkejut.
"Maksudmu apa?"
"Kata Bapak, Bapak sudah ditipu oleh pasien yang mengaku memberi
Moksa uang seratus ribu itu!?"
"Betul."
"Berarti, Bapak percaya pada Moksa, dong!"
Subianto terdiam. Dadanya berdetak keras.
"Kenapa Bapak tidak percaya kepada orang itu?"
Subianto mengalihkan pandangan. Itu pertanyaan yang sulit.
"Kenapa Pak?"
Subianto menghela napas.
"Karena kasihan?"
"Tidak. Kenapa kasihan?"
"Kalau begitu kenapa?"
"Karena aku percaya kepada kamu, Moksa."
Moksa termenung beberapa lama.
"Jadi Bapak lebih percaya kepada Moksa?"
"Ya dong!"
"Jadi masih percaya?"
Subianto menarik napas.
"Ya dong! Kenapa tidak?"
Moksa menunduk. Tiba-tiba ia menangis. Subianto sangat terkejut. Tapi
ia berusaha menahan perasaannya.
"Kamu menangis Moksa?"
Moksa mengangguk. Ia berusaha menahan isakannya.
"Kenapa kamu menangis?"
"Moksa malu, Pak."
"Malu? Kenapa?"
"Malu, karena Bapak masih percaya kepadaku."
Subianto terdiam. Moksa memaksa dirinya berhenti menangis. Lalu ia memandangi
bapaknya.
"Moksa jadi malu sekali, sebab Bapak masih percaya pada Moksa. Beri
Moksa kesempatan satu kali lagi Pak. Moksa akan mengubah semuanya ini.
Bapak mau memberi Moksa kesempatan?"
Subianto bingung. Ia tidak tahu apa yang lebih baik. Menjawab ya atau
tidak. Akhirnya ia menjawab, seperti orang yang bingung.
"Tak ada yang harus dimaafkan. Kalau kamu nanti besar dan sudah punya
anak, kamu akan tahu sendiri, di dalam keluarga tidak ada maaf, semuanya
sudah diselesaikan dengan sendirinya. Karena kepada siapa lagi kita bisa
berbuat kesalahan kecuali kepada orang tuamu yang menyayangimu?!"
Moksa nampak semakin tertikam. Tapi kemudian ia berdiri dan menghampiri
bapaknya. Memegang tangan orang tua itu, lalu menciumnya.
"Maap Pak."
Subianto tambah bingung. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Moksa.
Anak itu menangis kembali.
"Terima kasih, Bapak masih percaya kepada Moksa. Tidak ada yang lebih
berharga dari kepercayaan Bapak buat Moksa. Moksa akan berusaha baik lagi,
Pak. Moksa pergi sekarang, Pak, ada banyak PR. Moksa tidak mau ketinggalan
lagi. Jangan katakan sama Ibu, ya Pak!"
Subianto mengangguk, lalu membarut kepala Moksa. Kemudian mencium kening
anak yang cakep tapi badung itu. Moksa menangis lagi. Ia memeluk bapaknya
erat-erat, kemudian cepat-cepat hendak pergi ketika terdengar suara pintu
terbuka. Tapi ibunya keburu masuk.
Istri Subianto yang masuk karena mendengar suara tangis, terkejut karena
tiba-tiba anak itu memeluk.
"Ibu, Ibu punya seorang suami yang hebat. Moksa ternyata punya Bapak
yang hebat. Moksa balik dulu sebab banyak urusan. Nanti Moksa nelpon lagi.
Kapan-kapan Moksa anterin Ibu ke Planet Hollywood. Moksa yang akan traktir
dengan hasil ngamen."
Tak menunggu jawaban, Moksa mencium pipi ibunya, lalu bergegas keluar.
Wanita itu hendak memburu keluar, tetapi Subianto memberi isyarat.
"Jangan, biar saja dia pergi."
Perempuan itu bingung.
"Tapi, kamu kemaren bilang, ini sudah terlalu berbahaya."
Subianto menggeleng.
"Kita harus memberi dia kepercayaan."
"Tapi...mungkin dia perlu uang!"
Subianto menggeleng.
"Kepercayaan adalah segala-galanya. Itu lebih penting dari uang!"
Wajah perempuan itu nampak semakin bingung. Ia mendekati suaminya, lalu
mengembangkan tangannya. Di atas tangan itu Subianto melihat bungkusan
plastik dengan bubuk jahanam.
"Aku temukan ini di kamar mandi. Moksa pasti kelupaan."
Dokter Subianto bergetar melihat barang-barang jahanam itu. Tetapi ia
mencoba tenang. Hanya saja matanya tidak kuat. Nampak tetes air mata dari
kedua mata yang sudah banyak diterpa kesedihan itu.
"Kita harus percaya dan menyerahkan dirinya kepada dirinya. Dialah
yang paling bisa menjaga dirinya sendiri. Kita harus berhenti jadi polisi
dengan memberinya kepercayaan. Inilah harapan kita sekarang, setelah semuanya
gagal!" bisiknya sambil mencampakkan benda laknat yang sudah menghancurkan
Moksa itu.
"Kita lawan semua ini dengan kepercayaan."
"Tapi apa bisa hanya dengan kepercayaan, Pa? Moksa sudah parah!"
"Kamu kira aku percaya pada semua ini? Tidak, Bu. Aku juga tidak
percaya. Tapi kita harus percaya. Kita harus percaya Moksa akan bisa melawan
itu semua. Dengan memberinya kepercayaan kita akan membantu ia keluar
dari persoalannya. Harus, betapa pun kita tidak percayanya. Harus Bu!"
Istri Subianto terdiam, sementara Subianto sendiri berusaha melawan dirinya
sendiri. Ia tahu kepercayaan itu baru bisa bekerja, kalau dia sendiri
juga terlebih dahulu percaya. ***

|
|