Tentang Dialektika Engels
Karya berikut ini sama sekali tidak berasal dari suatu "dorongan
kalbu". Sebaliknya, temanku Liebknecht dapat bersaksi akan usahanya
yang keras untuk membujuk diriku mengarahkan sorotan kritik pada teori
paling baru Herr Dühring mengenai sosialisme. Sekali kuputuskan untuk
melakukan hal itu, aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyelidiki
teori ini, yang mengklaim merupakan buah praktikal terakhir dari suatu
sistem filosofikal baru, dalam kaitannya dengan sistem ini, dan dengan
demikian memeriksa sistem itu sendiri. Karenanya aku terpaksa mengikuti
Herr Dühring ke dalam wilayah yang sangat luas, di mana ia berbicara
mengenai segala hal yang mungkin dan mengenai hal-hal lain pula. Itulah
menjadi asal-usul serentetan karangan yang muncul dalam Vorwärts
Leipzig dari awal tahun 1877 dan seterusnya dan disajikan di sini sebagai
suatu kesatuan yang berangkaian.
Apabila, karena sifat hal-ikhwalnya, kritik atas sebuah sistem, yang
begitu sangat tidak berarti sekalipun segala puji-pujian diri, disajikan
dengan begitu terinci, maka ada dua keadaan boleh disebutkan sebagai permaafan.
Di satu pihak kritik ini memberikan kesempatan padaku untuk menguraikan
--dalam bentuk positif-- pandanganku di berbagai bidang mengenai masalah-masalah
kontroversial yang dewasa ini mempunyai makna ilmiah yang sangat umum
atau praktikal. Dan, sekali sedikitpun tidak terpikirkan olehku sebuah
sistem lain sebagai sebuah alternatif pada sistem Herr Dühring, diharapkan
bahwa, sekalipun beraneka-ragam bahan yang telah kuperiksa, para pembaca
tidak akan luput melihat antar-kaitan yang juga terkandung dalam pandangan-pandangan
yang telah kuajukan.
Di pihak lain, Herr Dühring yang "pencipta-sistem" sama
sekali bukanlah sebuah gejala terisolasi dalam Jerman masa-kini. Sudah
beberapa lamanya di negeri itu, sistem-sistem filosofikal, terutama natural-filosofikal
telah bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum
lagi kita sebutkan sistem-sistem baru yang tak terhitung banyaknya mengenai
politik, ekonomi, dsb. Presis seperti di negara modern, dianggap bahwa
setiap warganegara berkemampuan menjatuhkan keputusan akan segala permasalahan
yang mengenainya ia dipanggil untuk memberikan suaranya; dan presis seperti
itu dalam ekonomi dianggaplah bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli
mengenai semua barang-dagangan yang bertepatan dibelinya untuk kepentingannya
sendiri--anggapan-anggapan serupa itulah kini mesti diputuskan dalam ilmu-pengetahuan.
Setiap orang dapat menulis mengenai segala hal dan "kebebasan ilmu"
justru terdiri atas orang-orang yang dengan sengaja menulis mengenai hal-hal
yang tidak mereka pelajari dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode
yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring adalah salah satu tipe
paling karakteristik dari ilmu-semu yang penuh-sok ini, yang di Jerman
dewasa ini di mana-mana mendesakkan dirinya ke depan dan menenggelamkan
segala sesuatu dengan omong-kosong muluk-muluk yang gegap-gempita.
Omong-kosong sublim dalam puitri, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam
historiografi; omong-kosong muluk-muluk yang mengklaim suatu keunggulan
dan kedalaman pemikiran dalam membedakannya dari omong-kosong pasaran
yang sederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong muluk-muluk, produk
massal paling karakteristik dari industri intelektual Jerman --murah tapi
buruk-- persis seperti barang-barang buatan-Jerman lainnya, hanya ia,
malangnya, tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia.26) Bahkan sosialisme
Jerman akhir-akhir ini, teristimewa sejak contoh bagus dari Herr Dühring,
telah gemar melakukan sejumlah besar omong-kosong muluk-muluk; kenyataan
bahwa gerakan praktikal Sosial-Demokratik begitu pelit memmbiarkan dirinya
disesatkan oleh omong-kosong muluk-muluk ini merupakan sebuah bukti lagi
mengenai keadaan kesehatan yang luar biasa dari klas pekerja kita di sebuah
negeri di mana, kecuali ilmu-pengetahuan alam, hampir segala sesuatu pada
waktu sekarang sedang berpenyakitan.
Ketika Nägeli, dalam pidatonya pada pertemuan para sarjana ilmu-
alam di Munich, menyarakan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak akan
pernah memperoleh watak kemaha-tahuan,27) ia pasti tidak mengetahui mengenai
prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi ini telah memaksa
diriku mengikutinya ke dalam sejumlah bidang di mana aku paling-paling
dapat bergerak dalam kapasitas seorang diletante (pemerhati tetapi belum
ahli). Ini terutama berlaku bagi berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam,
di mana hingga kini seringkali dianggap sebagai kepongahan bagi seseorang
"awam" untuk ikut mengatakan sesuatu. Namun, aku sedikit banyak
diberanikan, oleh sebuah ungkapan yang diucapkan --juga di Munich-- oleh
Herr Virchow dan di tempat lain didiskusikan secara lebih terinci, bahwa
di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana alam hanyhalah seorang
setengah-pemula,28) vulgo: awam. Tepat sebagaimana seorang ahli seperti
itu dapat dan mesti memberanikan diri kadang-kadang melanggar bidang-bidang
bertetangga, dan diberi kelonggaran di sana oleh para ahli bersangkutan
dalam hal kekurang-cermatan kekurang-cermatan kecil dan kecanggungan dalam
pengungkapan, maka telah kuberanikan diriku mengutib/menyitat proses-proses
alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan
teoretikalku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran
serupa.*) Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan alam modern memaksakan
diri pada setiap orang yang berurusan dengan masalah-masalah teoretikal
dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama yang mendorong ilmuwan alam dewasa
ini mau-tak-mau pada kesimpulan-kesimpulan teoretikal umum. Dan di sini
terjadilah suatu kompensasi tertentu. Apabila para ahli teori merupakan
setengah-pemula di bidang ilmu pengetahuan alam, maka para sarjana alam
dewasa ini sesungguhnya sama setengah-pemulanya di bidang teori, dalam
bidang yang hingga kini disebut filsafat.
Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoretikal
merupakan sebuah produk historikal, yang pada waktu-waktu berlainan mengambil
bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan, dengan begitu, isi/kandungan yang
sangat berbeda pula. Ilmu mengenai pikiran karenanya, seperti semua ilmu
lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historikal, ilmu-pengetahuan mengenai
perkembangan historikal pikiran manusia. Dan ini juga penting sekali bagi
penerapan pikiran secara praktikal di bidang-bidang empirikal. Karena,
pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukanlah sebuah "kebenaran
abadi" yang ditegakkan sekali dan untuk selamanya, sebagaimana penalaran
filistine memba-yangkannya dengan kata "logika." Logika formal
itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit dari zaman Aristoteles
hingga sekarang. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara cukup
mendalam hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Adalah justru
dialektika itu yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi
ilmu pengetahuan-alam masa kini, karena hanya dialektika itulah menawarkan
analogi bagi, dan dengan demikian metode penjelasan dari proses-proses
evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya,
dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian
lainnya.
Kedua, suatu pengenalan dengan jalannya evolusi pikiran manusia secara
historikal, dengan pandangan-pandangan mengenai antar-kaitan antar-kaitan
umumnya di dunia eksternal yang diungkapkan pada berbagai waktu, diperlukan/disyaratkan
oleh ilmu-pengetahun alam secara teoretikal karena alasan tambahan bahwa
ia memenuhi sebuah kaidah mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh ilmu
itu sendiri. Namun, di sini kurangnya pengenalan sejarah filsafat cukup
sering dan secara mencolok dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan
dalam filsafat berabad-abad yang lalu, yang acapkali telah lama dikesampingkan
secara filosofikal, seringkali dikemukakan oleh para ilmuwan alam yang
berteori sebagai kearifan baru-"gres" dan bahkan telah menjadi
mode untuk beberapa waktu lamanya. Memang suatu prestasi besar dari teori
mekanikal tentang panas yang telah memperkuat azas mengenai konservasi
energi dengan pengajuan bukti-bukti segar dan pengedepanannya kembali
secara menonjol; tetapi mungkinkah azas ini muncul ke permukaan sebagai
sesuatu yang mutlak baru jika para ahli fisika yang terhormat itu teringat
kembali bahwa hal itu telah sudah dirumuskan oleh Descartes? Karena fisika
dan kimia sekali lagi beroperasi nyaris secara ekslusif dengan molekul-molekul
dan atom-atom, maka mau tidak mau filsafat atomik Yunani kuno telah tampil
kembali ke depan.
Namun betapa dangkalnya itu diperlakukan oleh yang terbaik di antara
mereka! Demikianlah Kekulé berkata pada kita (Ziele und Leistungen
der Chemie) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang melahirkannya,
dan ia berkukuh bahwa Dalton ialah yang paling pertama menyatakan keberadaan
(eksistensi) atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan
adalah yang pertama pula menjulukkan pada atom-atom itu berat-bobot berbeda-beda
yang menjadi sifat berbagai unsur. Padahal, setiap orang dapat membaca
dalam Diogenes Laertius (X, §§ 43-44 dan 61)28) bahwa Epicurus
sudah menyatakan pada atom- atom itu perbedaan-perbedaan --tidak saja
mengenai kebesaran (magnitude) dan bentuk, melainkan juga mengenai "berat,"
yaitu, ia dengan caranya sendiri sudah mengenal berat atomik dan volume
atomik.
Tahun 1848, yang sebenarnya tidak membawa apapun hingga suatu ketuntasan
di Jerman, di Jerman sana hanya menghasilkan sebuah revolusi di bidang
filsafat. Dengan terjun ke dalam bidang yang praktikal, dengan mendirikan
permulaan-permulaan industri modern dan pengecohan, dengan memprakarsai
kemajuan perkasa yang dialami ilmu-pengetahuan alam di Jerman dan yang
dilantik oleh para pengkhotbah keliling yang seperti-karikatur, yaitu
Vogt, Büchner, dan sebagainya, bangsa Jerman itu dengan tegas membalikkan
dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir
Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima
(perlakuan)itu. Tetapi suatu bangsa (nasion) yang berniat mencapai puncak-puncak
ilmu-pengetahuan tidak mungkin berhasil tanpa pikiran teoretikal. Tidak
hanya Hegelianisme, tetapi juga dialektika dibuang ke laut --dan itu justru
pada saat sifat dialektikal dari proses-proses alamiah tanpa dapat ditahan
memaksakan dirinya pada pikiran, manakala--karenanya--hanya dialektika
dapat membantu ilmu-pengetahuan alam dalam menyeberangi bergunung-gunung
teori-- maka itu timbullah suatu kelengangan tak-berdaya dalam metafisika-lama.
Yang berlaku di kalangan umum sejak itu yalah, di satu pihak, refleksi-refleksi
hambar akan Schopenhauer, yang digayakan bagi kesesuaian kaum filistin,
dan kemudian bahkan bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme
vulgar pengkhotbah-keliling dari seorang Vogt dan seorang Büchner.
Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam
bersaing satu sama lain dan hanya memiliki satu kesamaan, yaitu, bahwa
kesemuanya itu hanya diramu dari sisa-sisa filsafat-filsafat lama dan
bahwa kesemuanya itu sama-sama metafisikal. Segala yang diselamatkan dari
sisa-sisa filsafat klasik adalah suatu neo-Kantianisme tertentu, yang
kata-akhirnya yalah "benda-dalam-dirinya-sendiri" (thing-in-itself)
yang selama-lamanya tidak-dapat-diketahui, yaitu, sekeping dari Kant yang
paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya yalah inkoherensi (kengawuran/kekacauan)
dan kebingungan pikiran teoretikal yang kini berkuasa.
Orang nyaris tidak dapat memungut sebuah buku teori mengenai ilmu-pengetahuan
alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana alam itu sendiri merasa
betapa mereka itu dikuasai oleh kekacauan dan kebingungan itu, dan bahwa
apa yang dinamakan filsafat yang kini beredar, sama sekali tidak menawarkan
suatu jalan keluar kepada mereka. Dan di sini memang benar-benar tidak
ada jalan keluar, tidak ada kemungkinan untuk mencapai kejelasan, kecuali
dengan berbalik, dengan suatu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisika
kepada pemikiran dialektikal.
Balik pada pemikiran dialektikal ini dapat berlangsung dalam berbagai
cara. Ia dapat terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan
ilmu-alam itu sendiri, yang menolak untuk membiarkan dirinya dipaksa ke
dalam alas metafisika Procrustean lama. Tetapi itu suatu proses berkepanjangan
yang menyita banyak tenaga, yang selama itu disertai sejumlah sangat banyak
pergesekan tak-perlu yang mesti ditanggulangi. Sampai batas yang jauh
proses itu sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Ia dapat sangat
dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih
mengakrabkan diri mereka dengan filsafat dialektikal dalam bentuk-bentuk
yang telah ada secara historikal. Di antara bentuk-bentuk ini terdapat
dua buah yang mungkin istimewa bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern.
Yang pertama ialah filsafat Yunani. Di sini pikiran dialektikal masih
tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan
penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke
delapanbelas--Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman-- dengan jalannya
sendiri, dan yang dengan itu membendung kemajuannya sendiri, dari suatu
pemahaman mengenai yang bagian pada suatu pemahaman mengenai yang menyeluruh,
pada suatu wawasan mengenai antar-keterkaitan umum benda-benda. Di antara
orang-orang Yunani --hanya karena mereka belum cukup maju untuk membedah,
menelaah alam--alam masih dipandang sebagai suatu keutuhan, pada umumnya.
Keterkaitan universal dari gejala-gejala alam tidak terbukti dalam hal
partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani ia adalah hasil dari kontemplasi
langsung. Di sinilah letak ketidak-sepadannya (kekurangan) filsafat Yunani,
yang karenanya, ia kemudian mesti mengalah pada gaya-gaya pandangan lain
mengenai dunia. Tetapi di sini juga letak keunggulannya di atas semua
lawan metafisikal mereka berikutnya. Apabila metafisika Yunani benar dalam
hal partikular-partikular, maka dalam hal metafisika orang-orang Yunani
itu benar pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa kita dalam filsafat diharuskan,
seperti juga di begitu banyak bidang lainnya, untuk kembali dan kembali
lagi pada prestasi-prestasi orang-orang kecil yang bakat-bakat universal
dan kegiatannya memastikan kepadanya suatu tempat di dalam sejarah perkembangan
manusia yang tidak akan pernah dapat diklaim oleh orang-orang lain.
Namun, sebab lainnya yalah, bahwa aneka bentuk filsafat Yunani dalam
embrionya mengandung, dalam keadaan awal kelahirannya, hampir semua cara
pandangan mengenai dunia di masa-masa kemudian. Karena itu, ilmu-pengetahuan
alam teoretikal juga dipaksa untuk kembali pada orang-orang Yunani apabila
ia berhasrat menjejaki kembali sejarah asal-usul dan perkembangan azas-azas
umum yang dipakainya dewasa ini. Dan wawasan ini semakin mendesakkan dirinya
ke depan. Telah menjadi semakin langka contoh-contoh mengenai para sarjana
ilmu-alam yang, sambil sendiri menggarap fragmen-fragmen filsafat Yunani,
misalnya atomika, seperti dengan kebenaran-kebenaran abadi, memandang
rendah orang-orang Yunani dengan kecongkakan Baconian, karena orang-orang
Yunani itu tidak memiliki ilmu-pengetahuan alam empirikal. Bagi wawasan
ini saja jauh lebih baik untuk melangkah pada suatu pengenalan yang sungguh-sungguh
akan filsafat Yunani.
Bentuk dialektika yang kedua, yaitu yang paling dekat pada para naturalis
Jerman, yalah filsafat Jerman klasik, dari Kant hingga Hegel. Di sini
sudah dilakukan suatu permulaan, yaitu bahwa telah menjadi mode untuk
kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme yang disebut di
muka. Sejak pengungkapan bahwa Kant adalah pengarang dari dua hipotesis
yang brilyan, tanpa mana ilmu-pengetahuan alam teoretikal dewasa ini jelas-jelas
tidak dapat maju--teori, yang tadinya dijulukkan pada Laplace, mengenai
asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi)
bumi oleh pasang-surut--Kant kembali dihormati oleh kalangan sarjana ilmu-alam,
sebagaimana yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika
dalam karya-karya Kant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia bersusah-payah
dan berganjaran-kecil, karena kini telah terdapat, dalam karya-karya "Hegel,"
suatu kompendum yang serba-lengkap mengenai dialektika, sekalipun itu
dikembangkan dari suatu titik-keberangkatan yang sama sekali salah.
Setelah--di satu pihak--reaksi terhadap "filsafat alam" melepas
dayanya dan merosot menjadi sekedar cercaan--suatu reaksi yang terutama
dibenarkan oleh titik-keberangkatan yang salah ini dan degenerasi tak-berdaya
dari Hegelianisme Berlin; dan sesudah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan
alam secara teramat mencolok ditinggalkan dalam keterpurukan oleh metafisika
eklektik dewasa ini sehubungan dengan persyaratan-persyaratan teoretikalnya,
barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan
para sarjana ilmu-alam tanpa meman-cing tarian St.Vitus yang dengan begitu
mengasyikkan diperagakan oleh Herr Dühring.
Pertama-tama sekali mesti ditegaskan bahwa masalahnya di sini sama sekali
bukanlah hal mempertahankan titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran,
ide, adalah primer dan bahwa dunia real hanyalah sebuah salinan (copy)
dari ide itu. Feuerbach sudah meninggalkan hal itu. Kita semua sependapat,
bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, dalam ilmu-pengetahuan alam maupun
ilmu pengetahuan historikal, orang mesti mulai dari "faktum-faktum"
(fakta) tertentu, dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dari berbagai
bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi;*) bahwa karena itu,
juga dalam ilmu-pengetahuan alam antar- keterkaitan antar-keterkaitan
tidak boleh dibangun ke dalam fakta, melainkan mesti ditemukan di dalamnya,
dan manakala ditemukan, mesti diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen.
Ia juga bukan masalah mempertahankan isi dogmatik dari sistem Hegelian
sebagaimana itu dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin dari aliran yang
lebih tua dan aliran yang lebih muda. Maka itu, dengan jatuhnya titik-berangkat
idealis, sistem yang dibangun di atasnya, khususnya filsafat alam Hegelian,
juga ikut jatuh. Namun mesti diingatkan, bahwa polemik para sarjana ilmu-pengetahuan
alam terhadap Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat,
semata-mata ditujukan terhadap kedua hal ini: yaitu, titik-berangkat idealis
itu, dan konstruksi (rancang-bangun) sistem itu yang sewenang-wenang dan
mengingkari fakta.Setelah semua ini dijadikan pertimbangan, masih tersisalah
dialektika Hegel. Adalah jasa Marx bahwa, berlawanan dengan Eníyovo
yang cuma sedang-sedang, congkak, rewel, yang kini berbicara besar di
Jerman yang berkebudayaan,28) ia yang pertama kali mengedepankan kembali
metode dialektikal yang telah dilupakan, kaitannya dengan dialektika Hegelian
dan perbedaannya dari yang tersebut belakangan itu, dan sekaligus telah
menerapkan metode ini dalam Capital pada/atas faktum-faktum suatu ilmu-pengetahuan
empirikal, ekonomi politik. Dan ia melakukannya sedemikian berhasil sehingga,
bahkan di Jerman, aliran ekonomi yang lebih baru melampaui sistem perdagangan-bebas
yang vulgar hanya dengan menyalin dari Marx (dan seringkali secara tidak
tepat), dengan berdalih (berpura-pura) mengritiknya.
Dalam dialektika Hegel masih berlaku inversi yang sama dari semua antar-keterkaitan
seperti dalam semua cabang lainnya dalam sistemnya. Tetapi, sebagaimana
dikatakan Marx: "Mistifikasi yang diderita dialektika dalam tangan
Hegel, sedikitpun tidak menghalanginya untuk menjadi yang paling pertama
menyajikan bentuk keberlakuannya (bekerjanya) secara umum secara komprehensif
dan sadar. Dengan Hegel dialektika itu berdiri di atas kepalanya. Ia mesti
dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila orang hendak menemukan inti-rasional
di dalam kulit mistikalnya."29)
Namun, di dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, kita cukup sering berjumpa
dengan teori-teori di mana hubungan yang sesungguhnya diberdirikan di
atas kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya dan yang karena
itu perlu/mesti dibalikkan agar berdiri secara benar (di atas kakinya).
Teori-teori seperti itu cukup sering berdominasi selama waktu panjang.
Manakala selama hampir dua abad panas itu dipandang sebagai suatu substansi
istimewa yang misterius, dan bukannya suatu bentuk gerak dari materi biasa,
itu justru merupakan satu kasus seperti itu dan teori mekaninal mengenai
panas melaksanakan pembalikan itu tadi. Namun begitu, fisika yang didominasi
oleh teori kalorik menemukan serangkaian hukum yang sangat penting mengenai
panas dan membuka jalan, khususnya melalui Fourier30) dan Sadi Carnot,
bagi konsepsi yang benar, yang kini untuk bagiannya mesti membalikkan
secara tepat hukum-hukum yang ditemukan oleh pendahulunya, untuk menerjemahkannya
ke dalam bahasanya sendiri.*) Demikian pula, di dalam ilmu-kimia (chemistry),
teori flogistika (phlogistics) pertama-tama memberikan bahannya, dengan
seratus tahun kerja-eksperimental, dengan bantuan itu Lavoisier berhasil
menemukan --di dalam oksigen yang diperoleh Priestley-- antipode sesungguhnya
dari flogiston yang fantastik itu dan dengan demikian dapat membuang ke
laut seluruh teori flogistika. Tetapi ini sama sekali tidak menyingkirkan
hasil-hasil eksperimental mengenai ilmu-pengetahuan flogistika. Bahkan
sebaliknya daripada itu. Mereka itu bertahan, hanya formulasinya yang
dibalikkan, diterjemahkan dari flogistika ke dalam bahasa kimiah yang
kini berlaku dan dengan demikian mempertahankan kesahihannya.
Hubungan dialektika Hegelian dengan dialektika rasional adalah sama
seperti hubungan teori kalorik dengan teori mekanikal mengenai panas dan
hubungan teori flogistika dengan teori Lavoisier.

|
|